November Nyinyir

“Postingan ini buat yang suka nyinyir katanya kalo nikah muda gabisa nge-trip, gabisa kekinian karena udah ada bayi. Nah ini apa buktinya?”

*postingan diatas diikuti upload-an foto bertongsis ria sama kawannya di pantai, dan TANPA bayi. Sekali lagi sodara-sodara, TANPA bayi.*

Bayinya dimana? Seluruh jagat sosmed juga tau lah, kalo si bayi sama Embah-nya. Pake huruf ‘h’ ya bukan ‘k’.

Gemes banget lah sama bocah-bocah cilik yang udah merid ini, mau MBA lah ato emang udah ga kuat nahan diri aja, punya bayi tapi masih aja saingan kekinian. Ujung-ujungnya, si Ibu alias Embahnya si bayi jadi pengasuh.

Ehm… Ehm… Jaman dulu menikah muda adalah untuk membantu meringankan beban orang tua, terutama dari pihak perempuan. Karena perempuan kemudian akan mengabdi sebagai seorang istri dirumah sang lelaki. Dan seluruh biaya hidup perempuan akan ditanggung lelaki.

Lalu sekarang? Menikah muda malah menambahi beban orang tua. Si mamah muda sibuk membantu papah muda mencari nafkah, alhasil sang nenek yang seharusnya menikmati masa senja bersama si kakek, harus dengan sabar mengganti pampers sang cucu yang lucu. Padahal menitipkan anak kepada orang tua kita seharusnya ada etika, benar begitu? Kalo sudah begini, bisa dibilang siap jadi Ibu ngga tuh?

Asuhan mamah ato asuhan embah?

Continue Reading

HUT Tulungagung 810 : Pesta Buku Gramedia

Pesta Buku Gramediaaaaa….

Yay i’m so excited! Mohon maklum yaa, saya tinggal di kota kecil yang tidak tersedia Gramedia, namun tersedia Toga Mas, itupun sepi. Padahal buku-bukunya lumayan lengkap, apalagi novel-chicklit-teenlit dengan cover yang kian hari kian cantik.

Eniwei, Selamat Hari Jadi kampungku tercinta, Tulungagung, yang ke 810. Semoga tetap berjaya di hati, ayem tentrem mulyo lan tinoto (aman tentram mulia dan tertata), tetap asri tanpa polusi, lengang tanpa kemacetan, semakin tersedia ruang-ruang publik yang memadai.

Continue Reading

Balada “Kapan Menikah?”

image

“Kapan menikah?”, pertanyaan serem ya…
Hanya sekedar berbagi, tidak akan mengajari berbagai pilihan jawaban. Tugas para kreatif-kreatif meme itu yaa…
Karena jawaban paling bijak menurut saya adalah “didoakan saja semoga disegerakan”.

Saya hampir seperempat abad hidup sebagai warga dunia dan menjadi bagian didalamnya. Tentu pertanyaan macam ini sering dilontarkan dari mulut-mulut peduli sekaligus mengandung kepo atau mungkin saja sindiran. Alhamdulillah sekarang sudah cukup kebal dengan pertanyaan ini. Selain karena saya sudah menemukan jawaban paling bijak, tentu yang paling penting adalah hati dan pikiran kita selaras dengan apa yang kita jawabkan tadi.

Kenapa harus terburu-buru menikah? Sebagai perempuan urusannya tidak cukup macak, masak, manak (dandan, masak, beranak). Semua perempuan pasti akan menjadi ibu rumah tangga, entah plus dengan karir atau bahkan dengan bisnis. Karena itulah seorang ibu rumah tangga hendaklah memiliki bekal-bekal pengalaman yang sedemikian luasnya. Kenali dirimu, hobimu, cita-citamu dan berkelanalah. Berkelana bukan hanya tentang travelling, namun terjun untuk pengalaman dan ilmu-ilmu baru.

Continue Reading