Dolanan Jaman Cilik

dolanan jaman cilik

Akhir-akhir ini kita sering banget liat timeline Facebook penuh dengan gambar-gambar permainan masa kecil yang identik dengan generasi 90’an. Iya, saya generasi 90’an lho. Tua? Iyalah. Bangga? Pasti. Kenapa bangga? Karena saya ngerasa spesial lahir ditahun itu dan merasakan gimana lelahnya karena main sama tetangga atau teman sekolah. Sampai harus dijemput karena ga mau pulang dan ga sadar waktu. Muka dekil, baju kotor, pulang hujan-hujanan, tapi bisa ketawa-tawa sama teman. Bahagia banget dan ngerasa bahwa dunia hanya milik kami, anak-anak.

Dolanan jaman cilik (re: Permainan masa kecil) memang banyak banget. Hampir semuanya lucu, seru dan absurd alias ga jelas. Kadang, susah buat berhenti sebelum ada yang tiba-tiba nangis atau ngambek, yang ujung-ujungnya musuh-musuhan, eh besoknya main bareng lagi hahaha kita ngga kenal tuh baper-baperan. Dari sekian banyak permainan masa kecil, ada beberapa yang paling saya kangenin. Apa aja?

Continue Reading

MaȍMochi, Mochi Ice Cream Tulungagung

Yuhuuu… Tulungagung ada Mochi.

Mochi itu apa? Mochi sebenarnya adalah camilan dari Jawa Barat, dibuat dari tepung ketan berisi cincangan kacang. Teksturnya kenyal-kenyal lucu. Kenapa lucu? Soalnya lengket-lengket berbedak, kenyal digigit.

Dan sekarang ada Mochi Ice Cream. Mochi Ice Cream asalnya dari Jepang, dibuat dari tepung ketan juga, tapi berisi ice cream. Hmmm sama manisnya, tapi yang ini sajian dingin.

Pertama kali nyicipin Mochi Ice Cream ini pas lagi di Malang, karena Tulungagung waktu itu belum ada. Berawal dari stalking akun Instagram @TulungagungSparkling, eh ada Mochi lho. Mochi Ice Cream Tulungagung bawa nama MaoMochi.

Continue Reading

HUT Tulungagung 810 : Pesta Buku Gramedia

Pesta Buku Gramediaaaaa….

Yay i’m so excited! Mohon maklum yaa, saya tinggal di kota kecil yang tidak tersedia Gramedia, namun tersedia Toga Mas, itupun sepi. Padahal buku-bukunya lumayan lengkap, apalagi novel-chicklit-teenlit dengan cover yang kian hari kian cantik.

Eniwei, Selamat Hari Jadi kampungku tercinta, Tulungagung, yang ke 810. Semoga tetap berjaya di hati, ayem tentrem mulyo lan tinoto (aman tentram mulia dan tertata), tetap asri tanpa polusi, lengang tanpa kemacetan, semakin tersedia ruang-ruang publik yang memadai.

Continue Reading

Festival Bonorowo Menulis : Monolog Ibu Inggit (Lely Mei – API Bandung)

Salah satu komunitas yang hadir di Festival Bonorowo Menulis (9-11 Oktober 2015) adalah komunitas API Bandung. Mereka secara khusus datang dari Bandung, Jawa Barat ke bumi Bonorowo untuk turut sumbangsih dalam festival ini. Di hari pertama, ada penampilan konser buku dari Adew Habtsa, sayang sekali dihari pertama saya tidak dapat mengikutinya, karena terhalang ijin kerja. Dihari kedua ada penampilan Monolog Ibu Inggit dari Lely Mei (Cici).

Monolog adalah seni peran dimana hanya dibutuhkan satu orang untuk memerankan. Jujur, awalnya saya tidak mengetahui siapa itu Inggit, saya pikir dia adalah tokoh sastra hehehe *sungkem sama sejarah*. Saya memang belum pernah mendengar nama Inggit Garnasih, bahkan dalam sejarah ketika saya mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Monolog Ibu Inggit diperankan oleh Lely Mei, salah satu anggota dari komunitas dari Api Bandung. Berdandan jawa dengan kebaya kutu baru dan jarit batik, Ia naik keatas panggung, memperkenalkan diri sebagai Inggit Garnasih. Kata orang, jika pemuda-pemuda mendapatkan senyumnya seperti mendapatkan uang seringgit. Kala itu, seringgit adalah uang dengan nominal yang sangat besar.

IMG-20151010-WA0058
Photo by Husniati Salma (Photographer Volunteer)
Continue Reading

Festival Bonorowo Menulis : Penyeimbang Hidup

image

Di waktu pertama kali bertemu dengan para relawan, yang waktu itu udah pernah saya posting ceritanya, ada sedikit ingatan melintas hehehe

Tentang motivasi. Saya lupa namanya karena beliau datang terambat bersama anaknya yang masih berusia sekitar 5 tahun. Ketika beliau diminta untuk berbagi tentang motivasi, beliau bilang bahwa beliau ingin menyeimbangkan hidup.

Sederhana sekali bukan? Iya sih, kita ini kadang terlalu disibukkan dengan urusan duniawi, entah itu bekerja atau bisnis. Terkadang kita juga lupa untuk bertemu teman, karena kesibukan atau bahkan keasyikan cukup dengan chatting. Padahal ada kekuatan magis yang sulit diungkapkan saat kita bersilaturahmi tatap muka, menggunakan seluruh panca indera kita. Beliau ini merasa terlalu disibukkan dengan bekerja dan ingin berkegiatan sosial dan memilihlah menjadi relawan literasi.

Pada akhirnya, kesibukkan apapun jika terlalu berlebihan tidaklah baik. Kita butuh penyeimbang. Kita butuh penyelaras. Pandai-pandai membagi waktu agar kesemuanya elemen dalam hidup mendapat porsinya yang sesuai. Sudah seimbangkah hidupmu?

Continue Reading