Ngrowo Culture Festival 2016

Perkenalkan, inilah kota kelahiran saya, Tulungagung. Bukan hanya kota kelahiran namun juga kota tempat saya menempuh pendidikan dan mencari nafkah. Usianya kini 802 tahun. Tua ya? 

Berada di ujung bawah Provinsi Jawa Timur, berdekatan dengan Samudra Hindia, oleh karena itu jangan tanyakan bagaimana keindahan pantainya. Masih ada puluhan pantai alami yang belum terjamah oleh manusia bahkan belum diketahui namanya. Mau ber-adventure? Silahkan.

Di penghujung tahun 2016, kota yang sebelumnya bernama Ngrowo ini menggelar rangkaian acara dalam rangka Hari Jadi-nya. Salah satunya, Ngrowo Culture Festival.

Ngrowo Culture Festival ini sebenarnya bisa disebut Toeloengagoeng Tempoe Doeloe. Yang mana sebenarnya event semacam ini juga digelar di kota lain seperti Malang Tempoe Doeloe dan Blitar Tempoe Doeloe.

Continue Reading

Lontong Tahu Tulungagung di siang hari


Semenjak kantor saya pindahan dari area kota ke area pinggiran dengan pemandangan hamparan sawah di kanan kiri dan depan, problem utamanya adalah makanan.

Kalo dulu kanan kiri dan depan adalah warung penjaja makanan. Sebelah kanan adalah warung ibu-ibu komplit dengan sayur dan aneka bothok. Sebelah kiri adalah warung kopi yang menyediakan minuman dingin dan camilan krupuk. Depan kantor adalah warung es kelapa muda dan jalan raya yang terkadang penjual bakso, soto, mie ayam lewat. Tinggal panggil dan mereka mendekat.

Continue Reading

Sarapan Bubur Ayam Karangwaru Tulungagung

Oke. Nama gerobak Ibunya sih Bubur Ayam Jakarta, logatnya juga Jakarta. Tapi lokasinya di Karangwaru. Kalo mau kesini bilangnya ya ke Bubur Ayam Karangwaru.

Cukup susah nyari bubur di Tulungagung, apalagi bubur ayam. Kebanyakan Ibu-ibu di pasar pagi jualnya bubur sumsum atau bubur lodho. Dan Bubur Ayam Karangwaru ini salah satu favorit saya. Setiap kali gowes sama Mas WP kalo rutenya ke selatan dan doi bertanya, pengen sarapan apa? Bubur dong, jawab saya.


Buat saya, porsi bubur ayam ini pas buat ukuran perut. Komposisi bubur, suwiran ayam, kacang dan aneka lauknya pas hingga suapan terakhir bahkan takaran krupuk yang diberikan juga pas. Karena kadang kita pernah kan menemui buburnya banyak tapi lauknya yah gitu-gitu aja, suapan terakhir bubur doang malahan. Selain porsi yang pas, gurihnya juga nikmat. Karena saya suka manis, suka makanan berbau kecap, jadi saya suka tuang kecap yang agak berlebih. Apa gurihnya hilang? Sama sekali, tidak.


Bertempat di sebuah warung sederhana dan cenderung sempit, Bubur Ayam Karangwaru ini bisa ditemui di sebelah utara Waroeng Bima, jalur provinsi Tulungagung-Trenggalek. Buka warung sekitar jam 7 pagi, jam 9 pagi kadang sudah habis. Datang jam 8 pagi adalah jam yang paling tepat, tapi siap-siap antri dan ngga kebagian meja ya. Laris sih! 😀

Continue Reading

Kopdar Blogger Tulungagung Menulis #2


Tinggal di kota kecil beberapa kali bikin saya sering ngerasa iri dengan berbagai event-event blogger di kota besar, ketemu para pembicara-pembicara yang keren, belum lagi doorprize-doorprize yang bikin ngiler :D. Buat ke Surabaya aja saya butuh waktu perjalanan kurang lebih 4 jam, kalo ngga macet. Kalo macet bisa 5-6 jam di perjalanan, bisa kering kucel dong saya. Suatu kali saya sharing sama blogger di komunitas yang juga sama-sama dari kota kecil, ada komentar “kenapa ngga bikin sendiri di kota mu?”. Ide bagus! Cari-cari di sosmed berbagai akun lokal dan bertanya ada ngga komunitas Blogger, ternyata masih jarang. Pernah ada, tapi hidup segan mati tak mau gitu lah. Dan muncullah Blogger Tulungagung Menulis.

Continue Reading

#wisaTA : Telaga Aqua, Sendang, Tulungagung

14 Februari kemarin, yang biasanya rame disebut sebagai Hari Kasih Sayang, kebetulan banget jatuh di hari Minggu. Saya ngga ngrayain, tapi emang berencana ngetrip sama Mas WP. Semalam sebelumnya, udah ribut di Wasap, antara gowes apa engga, ngetrip kemana, antara iya dan engga, iya engga. Paginya, memutuskan ngga gowes, ngga jogging, soalnya saya agak masuk angin 😀 yowes jam 8 pagi jalan setelah minum teh anget.

Continue Reading