Pap Smear? Jangan Takut!

Beberapa hari yang lalu kantor tempat saya kerja dapat email dari BPJS Kesehatan. Isinya tentang Program Pap Smear Gratis dari BPJS Kesehatan. Beberapa teman sudah mulai memperbincangkan. Beberapa ngaku pengen tapi takut. Saya? Pengen, ngga takut. Hahaha.

Jadi tanpa pikir panjang, saya kabari suami kalo ada Pap Smear gratis ini. Langsung disetujui. Kenapa kasih kabar suami? Ya salah satu syaratnya kan ngga boleh berhubungan badan 48 jam sebelumnya. Hahaha. Bukan cuma itu aja sih, itu artinya saya akan pulang kerja telat karena harus ke laboratorium klinik.

Esok harinya, saya pergi ke klinik tempat BPJS menjalin kerjasama, yaitu Prodia. Disana saya menggali beberapa informasi. Konfirmasi dulu, apa benar bisa gratis? Iya memang benar, gratis, tanpa dipungut biaya. Petugas Resepsionisnya juga menanyakan apa saya punya perkumpulan atau organisasi dan saya diminta untuk mengajak teman-teman saya. Ayo Pap Smear, gaes!

Continue Reading

Festival Bonorowo Menulis : Donasi dan Berbagi

Dua tahun yang lalu ketika saya memutuskan untuk menjadi relawan di Festival Bonorowo Menulis saya berstatus lajang. Waktu saya sangat banyak. Meski saya bekerja, untuk refreshing saya selalu bersama pacar (sekarang suami). Bukan karena saya tidak punya teman. Saya punya teman, mereka pun ada. Hanya saja seiring waktu berjalan tentu mereka punya kesibukan masing-masing. Dari situlah saya merasa perlu untuk mencari dan membentuk lingkar pertemanan yang baru. Karena teman memang datang silih berganti.

Lagipula, saya juga pernah berfikir mau sampai kapan sih maen-maen terus, cari duit, ngabisin duit, pacaran, gitu terus siklusnya. Pasti pernah kepikiran kan pengen berbuat sesuatu atau berbagi sesuatu. Waktu itu, Festival Bonorowo Menulis memfasilitasinya.

Continue Reading

3 Harapan untuk Tanah Kelahiran, Tulungagung

Dua puluh lima tahun yang lalu, seorang bayi perempuan lahir dari seorang Ibu Rumah Tangga dan Bapak pekerja biasa. Layaknya orang tua lainnya, bayi perempuan itu mendapat pendidikan dan pengasuhan dengan baik. Prinsipnya, tak perlu jauh-jauh, cukup di Tulungagung saja. Lahir di Tulungagung, sekolah di Tulungagung, bahkan menikah di Tulungagung dan dapat suami orang Tulungagung juga.

Bayi perempuan itu saya.

Semua benar. Bapak tak ingin jauh dari anak perempuan pertamanya. Meski dalam kenyataannya ada penyimpangan. Hahaha. Saya mengenyam S1 di luar kota, namun setiap hari saya pulang ke Tulungagung. Saya tidak mengenal apa itu kost, pun saya tidak tau seperti apa rasanya bingung cari makan. Tulungagung adalah kota dimana saya akan selalu kembali, Tulungagung adalah rumah.

Continue Reading

Ngrowo Culture Festival 2016

Perkenalkan, inilah kota kelahiran saya, Tulungagung. Bukan hanya kota kelahiran namun juga kota tempat saya menempuh pendidikan dan mencari nafkah. Usianya kini 802 tahun. Tua ya? 

Berada di ujung bawah Provinsi Jawa Timur, berdekatan dengan Samudra Hindia, oleh karena itu jangan tanyakan bagaimana keindahan pantainya. Masih ada puluhan pantai alami yang belum terjamah oleh manusia bahkan belum diketahui namanya. Mau ber-adventure? Silahkan.

Di penghujung tahun 2016, kota yang sebelumnya bernama Ngrowo ini menggelar rangkaian acara dalam rangka Hari Jadi-nya. Salah satunya, Ngrowo Culture Festival.

Ngrowo Culture Festival ini sebenarnya bisa disebut Toeloengagoeng Tempoe Doeloe. Yang mana sebenarnya event semacam ini juga digelar di kota lain seperti Malang Tempoe Doeloe dan Blitar Tempoe Doeloe.

Continue Reading

Lontong Tahu Tulungagung di siang hari


Semenjak kantor saya pindahan dari area kota ke area pinggiran dengan pemandangan hamparan sawah di kanan kiri dan depan, problem utamanya adalah makanan.

Kalo dulu kanan kiri dan depan adalah warung penjaja makanan. Sebelah kanan adalah warung ibu-ibu komplit dengan sayur dan aneka bothok. Sebelah kiri adalah warung kopi yang menyediakan minuman dingin dan camilan krupuk. Depan kantor adalah warung es kelapa muda dan jalan raya yang terkadang penjual bakso, soto, mie ayam lewat. Tinggal panggil dan mereka mendekat.

Continue Reading