Bunda Berkisah #4 : Sajadah Kecil

Hari minggu adalah hari yang berharga bagi Ayah dan Ibu, karena bisa seharian dengan Marwa.

Tidak hanya bisa bermain bersama, Ayah juga mengijinkan Marwa untuk beli ice cream. Marwa suka kan?

Gadis kecil Ibu menganggukkan kepala.

Siang itu, Ibu harus melipat baju yang sudah mulai menumpuk. Marwa mau bantu melipat baju?

Lagi-lagi dia menganggukkan kepala.

Sambil melipat baju, terlihat Ayah mengambil air wudhu bersiap sholat. Ayah melihat ada sajadah kecil berwarna jingga.

Ayah pinjam sajadahnya Marwa ya?

Si gadis kecil terlalu sibuk melipat baju, hingga permintaan ijin Ayah tak dihiraukan.

Kemudian si gadis kecil tersadar barangnya dipakai. Marah. Kecewa. Seketika menangis meraung-raung.

Ibu mencoba menenangkan, tapi Marwa semakin menangis karena melihat Ayah masih memakai barangnya.

Selesai sholat, barulah tangisan reda.

Marwa marah sajadahnya dipinjam? Iya, marah boleh, nggak apa-apa. Ayah cuma pinjam, selesai sholat dikembalikan. Lihat, dikembalikan kan?

Ini punya Marwa, gerutunya masih dengan cemberut. Iya, itu punya Marwa, Ibu menenangkan sambil menahan senyum.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Emha Ainun N. Azizah (@inunrzh) on

***

Masih menggunakan sudut pandang saya sendiri, dan alhamdulillah mulai dapat feel-nya. Entah untuk tema-tema esok hari ya, semoga masih bisa konsisten dan nggak kehabisan ide. Poin penting buat saya pribadi!

Peristiwa marah karena sajadah kecil ini masih hangat banget di kepala kami, saya dan suami. Apa karena si bocah mulai memasuki fase posesif dan pemahaman kepemilikan ya? Karena ya heran aja, apa-apa diakui miliknya, siapapun nggak boleh pake atau menyentuh. Lucu menggemaskan sedikit menjengkelkan. Hahaha.

Setelah baca-baca, memang fase ini dialami anak mulai usia 18 bulan. Di fase perilaku posesif ini anak belajar memahami kepemilikan, ikatan dan identitas dirinya. Selain itu, pemikirannya masih sederhana, mudah mengklaim barang orang lain sebagai barangnya. (Sumber disini)

Bener banget sih. Saya nggak pernah memanggil Marwa dengan embel-embel ‘Dek’, keluarga yang lain pun begitu. Eh, dia menyebut dirinya ‘Dek Marwa’ dong, mungkin karena berasa paling kecil kali ya, barang-barangnya kecil, saya cuma sering bilang ‘ini untuk Marwa, yang kecil saja’. Mungkin dari situ juga dia belajar tentang identitas dirinya bahwa dirinya anak kecil. Lucu sekali 😀

Dari sini juga saya belajar untuk mengenalkan konsep berbagi, meskipun nggak gampang dan butuh dibiasakan terus-menerus. Berbagi disini saya masih kenalin konsep gantian dan pinjam-meminjam. Seperti pinjam sajadah, ya dia paham ada orang yang pakai barang dia, tapi selanjutnya dia juga harus tau bahwa akan dikembalikan lagi, akan jadi milik dia lagi. Sama seperti dia pernah lihat Ayahnya pegang dompet saya, langsung teriak-teriak ‘punya Nda, punya Nda’ padahal kan itu mau nambahin saldo kas, Nak. Gara-gara diteriakin, kan sama Ayah ditaruh lagi, nggak jadi nambah dong saldo kas Ibu. -___-”

Sekian dulu ya, sampai ketemu esok, dengan tema Bunda Berkisah berikutnya 🙂

#Day4

#BundaBerkisah

#PejuangLiterasi

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *