Bunda Berkisah #1 : Rumah Mbak Nesha

Seperti biasa, setiap akhir pekan, Ibu dan Ayah mengajakku bepergian dengan motor. Meskipun seringnya aku tertidur dijalan.

Sabtu sore itu, Ibu bilang, kita akan pergi kerumah Mbak Nessa.

Mbak Nessa itu yang mana ya? Pikirku.

Mbak Nessa itu rumahnya dekat dengan Tante Manda, kata Ibu. Mbak Nessa juga berambut panjang, katanya. Sesampai dirumah Tante Manda, Ibu bertanya ke Tante Manda, Mbak Nessa mana, ini Marwa mau main.

Mbak Nessa keluar dari rumah dan membawa bola. Aku senang sekali. Mbak Nessa meminjamkan bolanya padaku, tapi Mbak Nessa tidak ikut bermain. Aku hanya bermain dengan Tante Manda.

Lalu, Mbak Nessa masuk kerumahnya lagi. Dia meminjamkan mainan squishy padaku, berbentuk kodok. Ibu bertanya, bilang apa sudah dipinjami? Aku berucap terima kasih. Squishy itu lucu sekali, dan aku ingin memilikinya. Tapi kata Ibu, itu pinjam jadi harus dikembalikan.

Kapan-kapan boleh main lagi kerumah Mbak Nessa. Mbak Nessa baik dan benar kata Ibu, rambutnya panjang.

View this post on Instagram

 

A post shared by Emha Ainun N. Azizah (@inunrzh) on

***

Beberapa hari yang lalu, saya memutuskan untuk ikut challenge menulis lagi. Dibilang enteng ya enteng, berat ya berat. Entengnya, challenge menulis ini di Instagram, yang mana jumlah karakter boleh lebih sedikit daripada blog. Kalo di blog kan harus panjang, setidaknya saya selalu kasih target minimal 500-600 kata. Nah kalo di Instagram ini, maksimal 300 kata. Selebihnya, saya bebas mengembangkan di blog.

Dibilang berat, karena ini 15 hari berturut-turut dan tema sudah ditentukan. Kemarin saya seminggu aja pongah ditengah jalan. Padahal tema sama-sama sudah ditentukan. Ah payah! Makanya ini saya menantang diri sendiri lagi, mampu nggak ya? Sekalian belajar konsisten menulis setiap hari. Kata sahabat saya, Amanda, practice makes perfect!

Challenge ini juga bukan sembarang menulis, namanya Bunda Berkisah. Karena bingung antara perbedaan mendongeng dengan berkisah, kemarin saya meminta pencerahan dari Bunda Tjut. Kesimpulannya, pada dasarnya sama, yaitu menceritakan kembali peristiwa. Bedanya, jika mendongeng lebih ke cerita fantasi. Sedangkan, berkisah diangkat dari pengalaman nyata.

Pertanyaan saya kemudian, apakah berkisah harus selalu berdasar kitab suci (Al-Qur’an)? Karena setiap kali saya browsing selalu arahannya adalah Kisah Rasulullah dan lain-lain. Jawaban beliau, tidak selalu, yang penting berdasar pengalaman nyata.

Dan hari pertama ini bertema ‘Rumah’, cerita diatas saya ambil sudut pandang dari Marwa, yang waktu itu saya ajak main kerumah sahabat saya, Amanda. Amanda punya saudara kecil, bernama Nesha, membahasakan Marwa, Mbak Nesha.

Main-main kerumah teman gini, sekalian saya kenalin ke Marwa kalo ‘ini lho teman Ibu’ juga belajar ngajakin sosialisasi. Saya juga kenalin Marwa kalo orangtua Tante Manda juga Uti dan Akung, sama seperti Uti dan Akung dirumah. Sederhananya, supaya dia nggak cuma kenal orang rumah aja, supaya kalo ketemu orang asing dengan bermacam-macam dia jauh lebih berani dan percaya diri.

Sedangkan manfaatnya buat saya apa? Jelas refreshing dong, ngobrol-ngobrol, meskipun sebenarnya hampir tiap hari juga ngobrol di Whatsapp. Tapi, percaya deh, beda rasanya. Pasti ada mimik-mimik kesal, ngakak, yang itu nggak bisa diungkapkan hanya dengan Whatsapp. Selain itu, tentu saya lebih tau kabarnya secara nyata, nggak cuma memastikan kabar baik, tapi ya benar-benar baik.

Ada yang berencana quality time bareng anak dengan mengunjungi teman?

#Day1

#BundaBerkisah

#PejuangLiterasi

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *