BAPER!

Bikin judul itu, susah!

Kemarin grup chat sohib SMA rame gegara salah satu dari kami upload foto nikahan, yang menikah adalah mantan dari teman kami yang lain. Rame tentu karena dikaitkan dengan “Jangan Baper!”. Yha mantan menikah, emang yakin nggak baper? Hahaha.

Mulut bisa aja bilang, sudah move on kok, nggak baper. Ah masa iya? Hihihi.

Sama seperti beberapa waktu yang lalu salah seorang dari kami ada yang melepas masa lajang lagi. Kebetulan, salah satu dari kita masih berteman baik dengan mantannya. Mantannya nggak tahan buat pengen tau update nikahannya. Minta dikirimi foto, pengen tau suasana pesta pernikahan, ini mantan niat banget calling baper-nya. Hahaha. Sampe saya sendiri heran pas dikasih tau chat-nya si mantan. Bilangnya, bahagia liat dia menikah sama orang terkasihnya, tapi nggak sungkan dan nggak malu buat minta foto dan video saat mantannya nikah.

Hatimu nggak ambyar, Mas?

Ini yang nulis kok nggak percaya sih dibilang kalo nggak baper dan sudah move on!

Baper bukan tanda belum atau nggak move on kok. Baper itu manusiawi, wajar, dan AKUI saja! Karena ya nggak apa-apa. Itu tandanya saraf sensorik kita yang berisi kenangan sama si dia masih bekerja dengan baik.

Baper juga bukan tanda masih sayang. Ngomongin sayang ya terlalu panjang. Tapi saat kita baper, saraf sensorik tadi aktif, tanpa sadar kita ‘memanggil’ kenangan-kenangan yang pernah kejadian. Yang pada akhirnya, saraf sensorik yang berisi memori tadi semakin terpanggil dan jadilah, Baper Tak Berkesudahan! Hahaha.

Bisa bilang begini karena ya pernah baper liat seseorang menikah, padahal ya bukan mantan, bukan siapa-siapa, alasannya cuma sederhana, karena punya memori. Kemudian, saya nemu tweet gitu, yang intinya kalo baper itu akui saja. Karena dengan mengakui sebenarnya kita sudah mencegah calling-calling lebih lanjut, yang bisa bikin makin baper. Semakin kita menolak, justru keinginan buat memanggil semakin kuat. Nggak percaya, coba aja!

Coba aja mengelak akan sesuatu, justru semakin kepikiran kan?

Dengan kita mengakui ke-baper-an, semakin cepat mengembalikan kita pada realita yang ada.

Jadi, kalo sedang baper sama mantan, akui dan nikmati saja! Satu lagi, jangan coba-coba menghubungi dia atau tanggung sendiri akibatnya! :p

***

Ps. Blogpost ini ditulis untuk menyimpan kenangan obrolan sama teman-teman saya di grup chat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *