Anak Sakit, Sabar dan Gendong

Akhir pekan kemarin, si anak gadis tiba-tiba demam. Padahal sewaktu sore perjalanan pulang kerumah, dia ngga menunjukkan tanda-tanda mau sakit. Masih aktif seperti biasa. Namun menjelang malam jam 9, saya pegang tubuhnya kok suhunya meningkat. Untung saya selalu bawa termometer dan transpulmin di tas. Sewaktu di cek, suhu tubuhnya 37°. Pertolongan pertama segera kompres modern yang tinggal tempel itu.

Si Marwa sebenarnya sejauh ini tipikal bocah yang jarang sakit. Seingat saya, ini adalah demam kedua dia sampai usia 13 bulan ini. Yang pertama di usia 7 bulan. Itupun masih bisa senyum mringis meski malas bermain. Alhamdulillah sekali. Sebagai Ibunya, saya ngga terlalu panik. Slow banget. Batuk pilek pun jarang. Pilek pertama saat dia masuk MPASI, kenalan dengan air putih dan pilek deh. Setelah itu pilek lagi, tapi 2 hari beres. Ngga pernah konsumsi obat apapun, cuma transpulmin aja. Alhamdulillaaah~

Keesokan harinya saya memutuskan ijin ngga masuk kerja, karena keesokan harinya suhu tubuhnya belum menurun dan mulai ada tanda-tanda flu. Karena saya tinggal dengan mertua, dan saya ngga mau anggota keluarga yang lain ikut panik, yaudah saya minta tolong suami untuk beli sanmol. Sanmol ini setau saya rasanya enak, harapannya nggak ada drama minum obat. Karena memang Marwa jarang minum obat.

Selain itu, Ibu dan Bapak saya jengukin sambil bawain daun dadap srep. Saya nggak tahu daun ini bentuk pohonnya seperti apa, tapi dipercaya sama sesepuh bisa nurunin demam anak. Dikompresin di dahi, di perut dan di punggung. Alhamdulillah menuju siang, demamnya berangsur menurun.

Tapi flu mulai menampakkan tanda-tandanya. Marwa mulai bersin-bersin, gosok-gosok hidung dan mulailah ingus bening mengalir. Anaknya seharian nggak mau main sama sekali, nempel saya doang, dikit-dikit tidur. Makan pun susah.

Hari Minggu, Marwa sudah ngga demam lagi. Tapi makin pilek dan mulai batuk berdahak. Nafsu makan masih menurun dan cuma mau alpukat doang. Alpukat dan air putih. Tiap 3 jam sekali saya olesin transpulmin lagi. Anaknya suka banget kalo diolesin transpulmin, kooperatif, anteng dan kayak ngerasain gitu.

Karena saya Senin harus balik kerja, Marwa saya titip ke Ibu saya. Selasa mulai parah flu-nya, mulai susah nafas karena hidung tersumbat, ngga mau main, cranky seharian dan sorenya untuk pertama kali saya minta obat ke Bidan. Hahaha.

Meskipun saya tau, Marwa sebenarnya cuma common-cold dan menurut referensi yang saya baca sebenarnya bisa sembuh sendiri dengan obat sabar dan gendong, namun ternyata sabar dan gendong itu bukan urusan menghadapi anak sakit. Yang terberat adalah sabar menghadapi omongan orang. Hahaha.

“Ya ampun kayak gitu, udah diobatin belom?”

“Udah dikasih obat belom? Cobain ini deh~”

“Kasian banget sih kok nggak dibeliin obat”

Saya lelah!

Prinsip kayak gini memang butuh muka badak, kuping tebal nan tuli dan support system yang oke banget. Keyakinan diri aja nggak cukup. Dan saya nggak cukup yakin sama diri, ditambah support system cuma datang dari orang tua, suami dan mertua nggak dukung. Sedih.

Tapi, saya tetap bersyukur dititipi Marwa sama Tuhan. Meskipun sakit, nggak mau main, sesekali dia masih senyum dan ngoceh. Meskipun nafsu makan menurun, dia alpukat masih lahap, air putih masih lancar, nyusu ASI masih kuat dan yang terpenting minum obat nggak pernah drama. Saat ini saya ingin menaruh keyakinan diri kuat-kuat untuk Marwa bahwa inshaallah daya tahan tubuh dia bagus dan kuat. Alih-alih saya mengkhawatirkan sakitnya, lebih baik saya pasang kepercayaan diri akan sehatnya.

Semoga kami sekeluarga sehat terus yaa~

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *