Berkontribusi dalam Membudayakan Literasi


Semenjak menikah dan memiliki anak, sejujurnya, saya dan suami tidak memiliki bagaimana konsep keluarga yang akan kami bentuk nanti. Saya yakin ini juga yang dialami oleh pasangan muda seperti kami. Pasangan muda yang lebih memilih just let it flow dan learning by doing. Faktanya, menikah dan membentuk keluarga perlu bekerja sebagai tim. Dan, kerja tim butuh perencanaan. Tak jarang mereka yang gagal berkeluarga disebabkan karena gagal menjadi tim.

Untuk bekerja dalam tim, komunikasi adalah kunci utama. Komunikasikan segala kesepakatan antara suami dan istri dalam mewujudkan konsep keluarga. Jangan sampai nih, istri berniat memfasilitasi anak dengan buku-buku, namun suami malah menganggap istri menghambur-hamburkan uang.

(Baca : Mimpi Perpustakaan Keluarga)

Keluarga sebagai kultur masyarakat terkecil menjadi penting perannya ketika dihadapkan dengan nasib keberlanjutan generasi. Pemikiran sederhananya, punya anak kan untuk meneruskan keturunan, meneruskan generasi? Tapi, seberapa berkualitasnya generasi yang akan mendatang sangat bergantung dari peran keluarga dan lingkungannya, tim yang lebih besar lagi.

Continue Reading

Menjadi Bagian dari Literasi

Aku masih ingat dengan jelas, dimana masa itu menjadi sebuah titik tumpu untuk lompatan-lompatan berikutnya. Aku memutuskan mendaftar menjadi Volunteer sebuah event. Tidak ada seorang pun yang aku kenal. Membulatkan tekad untuk mencari lingkar pertemanan baru.

Dari sanalah perjalanan ku dimulai…

Continue Reading

Minim Sampah dari Rumah bersama Marina D. Susanti

Mengikuti matrikulasi Ibu Profesional kemarin, ada banyak hal yang menggugah hati. Salah satunya, saya menyadari bahwa setiap perempuan itu istimewa, mereka punya cerita pengalaman hidup yang layak untuk dibagikan. Sesama perempuan kita bisa saling memberdayakan dengan saling berbagi cerita.

Berawal dari itu semua, saya punya keinginan untuk menghimpun cerita-cerita positif dari perempuan di lingkungan saya berada. Nggak usah jauh-jauh, saya percaya perempuan-perempuan di Tulungagung ini hebat-hebat kok.

Salah satunya, Mbak Marina Dewi Susanti ini. Saya biasa memanggilnya, Mbak Santi. Kami saling kenal karena dulu pernah jadi rekan kerja di kantor lama. Sekarang masing-masing kami sudah berumahtangga, terhubung kembali karena muamalah di lapak buku anak saya. Hahaha.

Continue Reading
1 2 3 33