Happylist Challenge #3 : Tepat Waktu

Jadi hari ini aku sama suami janjian mau pergi kerumah temen sama temen ku yang lain. Sebenarnya udah planning sejak minggu kemarin, kalo temen-temen ngga bisa yaudah pergi sendiri aja. Karena kan sekarang ada bocil ya, jadi janjian sama orang itu ngga bisa seenaknya, nyesuain jadwal bocil.

Kemudian si temen ini bilang, jam 10 ya?. Aku setuju. Prediksi ku jam 10, si bocil udah makan, udah tidur, udah enak lah dia diajak jalan, ngga bakal cranky. Begitupun aku sama suami, udah beres.

Aku sedang berusaha buat tepat waktu. Tepat waktu itu butuh latihan dan perlu manajemen waktu yang baik. Aku sudah sampe dirumah temen aku, jam 10 tepat. Yes, aku berhasil tepat waktu. Aku bangga dong sama diriku sendiri. Bisa tepat waktu itu penghargaan tersendiri lho.

Tapiii… Si teman yang ngajakin jam 10 ini, ngaret. Ngga tanggung-tanggung, 2 jam. Males banget ya!

Yaudahlah, hikmahnya aku bisa ngobrol lebih panjang sama orang tua dan temen ku, lebih intim juga. Jadi pelajaran banget ya, tepat waktu itu penting. Minimal buat diri sendiri. Karena saat kita ngga tepat waktu, ada waktu orang lain yang terbuang.

Tetep latihan tepat waktu!

Continue Reading

Happylist Challenge #2 : Keluarga dan Statistik Blog

Seperti biasa, setiap kali akhir pekan adalah jadwal saya kerumah mertua. Pertama yang saya syukuri jarak rumah orang tua saya dan mertua dekat sekali, 15 menit sampai. Meski begitu kadang saya masih merasa berat ninggalin Bapak sm Ibu.

Kadang, kita akan tau seperti apa ‘bentuk’ rumah kita saat kita berada diluar rumah itu. Meski tak sempurna, pasti akan ada saja hal-hal yang dirindukan dan tak ditemui dimanapun.

Beberapa hari yang lalu saya Pap Smear, dan hari ini tulisan pengalaman saya published di blog. Saya semangat untuk share link tulisan ini kemana-mana, terutama sosial media. Dan banyak teman dekat saya membaca, beberapa diantaranya setelah baca segera chat saya dan tanya-tanya. Bahagia ya kalo bisa ngasih info bermanfaat itu. Bonusnya, statistik blog naik. Hahaha.

Continue Reading

Pap Smear? Jangan Takut!

Beberapa hari yang lalu kantor tempat saya kerja dapat email dari BPJS Kesehatan. Isinya tentang Program Pap Smear Gratis dari BPJS Kesehatan. Beberapa teman sudah mulai memperbincangkan. Beberapa ngaku pengen tapi takut. Saya? Pengen, ngga takut. Hahaha.

Jadi tanpa pikir panjang, saya kabari suami kalo ada Pap Smear gratis ini. Langsung disetujui. Kenapa kasih kabar suami? Ya salah satu syaratnya kan ngga boleh berhubungan badan 48 jam sebelumnya. Hahaha. Bukan cuma itu aja sih, itu artinya saya akan pulang kerja telat karena harus ke laboratorium klinik.

Esok harinya, saya pergi ke klinik tempat BPJS menjalin kerjasama, yaitu Prodia. Disana saya menggali beberapa informasi. Konfirmasi dulu, apa benar bisa gratis? Iya memang benar, gratis, tanpa dipungut biaya. Petugas Resepsionisnya juga menanyakan apa saya punya perkumpulan atau organisasi dan saya diminta untuk mengajak teman-teman saya. Ayo Pap Smear, gaes!

Continue Reading

Happylist Challenge #1 : Berbagi Cinta

Seperti biasa, ketika matahari mulai tenggelam saya bukan lagi pekerja kantoran, saya adalah seorang Ibu untuk Marwa. Saya pulang kerumah, segera membersihkan diri, membuka tangan saya untuk menawarinya gendong dan dia menyambutnya, membuka tangannya lebar-lebar sembari memajukan tubuhnya. Bahagianya tak terlukiskan.

Setelah puas bermain-main, dia mulai merengek dan mencari-cari nenen kemudian terlelap. Bahagiaku, aku bisa menyusuinya meski harus bekerja. Sesuatu yang selama 8 bulan terakhir ini selalu saya syukuri dan selalu saya anggap sebagai keajaiban dan karunia.

Untuk seseorang disana, kita adalah perempuan. Entah melalui proses mengandung atau tidak, kita bersama-sama bertanggung jawab memelihara bibit-bibit penerus kita. Kita tak perlu khawatir tentang ilmu mengasuh kita. Karena faktanya tak ada sekolah menjadi Ibu.

Anak-anak lah yang akan mengajarkan pada kita bagaimana memahami mereka. Bersama dengan mereka akan menjadi sekolah yang tak berujung, yang tak mengenal kelulusan dan tak mengenal nilai merah.

Satu-satunya yang bisa kita berikan adalah CINTA. Dengan cinta kita akan belajar dengan mereka dan mereka memahami kita. Mari bersama-sama kita belajar berbagi cinta dengan anak-anak, entah dari rahim siapa mereka berasal.

Continue Reading

Festival Bonorowo Menulis : Donasi dan Berbagi

Dua tahun yang lalu ketika saya memutuskan untuk menjadi relawan di Festival Bonorowo Menulis saya berstatus lajang. Waktu saya sangat banyak. Meski saya bekerja, untuk refreshing saya selalu bersama pacar (sekarang suami). Bukan karena saya tidak punya teman. Saya punya teman, mereka pun ada. Hanya saja seiring waktu berjalan tentu mereka punya kesibukan masing-masing. Dari situlah saya merasa perlu untuk mencari dan membentuk lingkar pertemanan yang baru. Karena teman memang datang silih berganti.

Lagipula, saya juga pernah berfikir mau sampai kapan sih maen-maen terus, cari duit, ngabisin duit, pacaran, gitu terus siklusnya. Pasti pernah kepikiran kan pengen berbuat sesuatu atau berbagi sesuatu. Waktu itu, Festival Bonorowo Menulis memfasilitasinya.

Continue Reading
1 2 3 11